Apakah Air Daur Ulang dari Toilet Bisa Digunakan untuk Wudhu?




Kawasan superblok di ibu kota kerap menggunakan air daur ulang yang berasal dari limbah. Umat Islam di perkotaan pun mempertanyakan kehalalan mengonsumsi air tersebut. Terlebih, limbah yang menjadi sumber air berasal dari toilet.

Dikutip dari situs resmi LPPOM MUI, Manajemen PT Menara Thamrin, satu kawasan superblok di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, mengajukan proses sertifikasi halal untuk pemanfaatan air yang diproses daur-ulang di kawasan yang dikelolanya kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Setelah diaudit,  LPPOM MUI menemukan bahwa air daur-ulang itu diperoses dari limbah gedung yang berasal dari toilet, wastafel, dan foodcourt.  Air limbah tersebut diolah dengan cara diaerasi, diendapkan. Lalu ditambahkan karbon aktif yang telah mendapat Sertifikat Halal (SH), lalu difiltrasi dan didesinfeksi dengan bahan kimia. Air limbah ditampung sebanyak 64 m3, kemudian air hasil olahan tersebut ditambahkan dengan air PAM sebanyak 100-150 m3 sebelum dimanfaatkan.

Di produk akhir, air yang dihasilkan kembali normal seperti air alami bau, warna dan rasanya. Hal ini dibuktikan dengan adanya  hasil uji laboratorium.

Hasil penelitian kemudian dibawa dan dilaporkan kepada para ulama dalam Sidang Komisi Fatwa MUI. Berkenaan dengan hal ini, Dr.K.H.M. Hamdan Rasyid, M.A., Anggota Komisi Fatwa MUI, menjelaskan, ketentuan tentang air daur-ulang  kembali pada realitas air tersebut.

Kalau setelah diproses, kondisi air itu kembali seperti halnya air alami yang normal bau, warna dan rasanya, maka dalam kaidah Fiqhiyyah disebut sebagai air yang suci dan mensucikan, Thohir-Muthohirun.  Dengan demikian boleh dimanfaatkan untuk konsumsi maupun bersuci atau berwudhu.

Kemudian ia menyebutkan Hadits Nabi saw mengenai air dua qullah yang artinya. “Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).” (HR. Ad-Daruquthni). Menurut perhitungan saat ini, ukuran dua qullah itu bisa dianalogikan dengan bak penampungan air berukuran: panjang x lebar x tinggi sebesar 60cm.

 Mengingat sumber air itu berasal dari limbah, mungkin bagi sebagian orang akan timbul perasaan tidak sreg untuk memanfaatkan air hasil dari daur-ulang itu. Menanggapi hal ini, tokoh ulama MUI ini menjelaskan pula, hukum Islam dengan kaidah Fiqhiyyah itu lebih mengemukakan ketentuan secara objektif. Bukan perasaan individual yang bersifat subjektif. Sehingga kalau memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan itu, maka air dari hasil daur-ulang itupun menjadi suci dan mensucikan.

Share on Google Plus

About Zona Halal

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment